SEORANG TOKOH PENGHUNI SURGA
Seandainya ada orang yang dilahirkan di Surga, lain
dibesarkan dalam haribaannya dan jadi dewasa, kemudian dibawa ke dunia untuk
jadi hiasan dan nur cahaya, maka'Ammar bersama ibunya Sumayyah dan bapaknya
Yasir, adalah beberapa orang di antara mereka....
Tetapi kenapa kita mengatakan tadi "seandainya",
seolah-olah itu hanya pengandaian belaka, padahal keluarga Yasir benar-benar
penduduk Surga? Ketika Rasululiah saw. bersabda:
"Shabar wahai keluarga Yasir, tempat yang telah
dijanjikan bagi kalian adalah Surga!"
kata-kata itu diucapkannya bukanlah hanya sebagai hiburan
belaka, tetapi benar-benar mengakui kenyataan yang diketahuinya dan menguatkan
fakta yang dilihat dan disaksikannya ....
Yasir bin 'Amir yakni ayahanda 'Ammar, berangkat meninggalkan
negerinya di Yaman guna mencari dan menemui salah seorang saudaranya ....
Rupanya ia berkenan dan merasa cocok tinggal di Mekah. Bermukimlah ia di sana
dan mengikat perjanjian persahabatan dengan Abu Hudzaifah ibnul Mughirah ....
Abu Hudzaifah mengawinkannya dengan salah seorang sahayanya
bernama Sumayyah binti Khayyath, dan dari perkawinan yang penuh berkah ini,
kedua suami isteri itu dikaruniai seorang putera bernama 'Ammar....
Keislaman mereka· termasuk dalam golongan yang mula pertama,
sebagai halnya orang shalih;yang diberi petunjuk oleh Allah. Dan sebagai halnya
orang-orang shalih yang termasuk dalam golongan yang mula pertama masuk Islam,
mereka cukup menderita karena siksa dan kekejaman Quraisy ....
Orang-orang Quraisy menjalankan siasat terhadap Kaum Muslimin
sesuai suasana. Seandainya mereka ini golongan bangsawan dan berpengaruh,
mereka hadapi dengan ancaman dan gertakan. Abu Jahal orang yang menggertaknya
dengan ungkapan: "Kamu berani meninggalkan agama nenek moyangmu padahal
mereka lebih baik daripadamu ! Akan kami uji sampai di mana ketabahanmu, akan
kami jatuhkan kehormatanmu, akan kami rusak perniagaanmu dan akan kami
musnahkan harta bendamu!"
Dan setelah itu mereka lancarkan kepadanya perang urat syaraf
yang amat sengit.
Dan sekiranya yang beriman itu dari kalangan penduduk Mekah yang rendah
martabatnya dan yang miskin, atau dari golongan budak belian, maka mereka
didera dan disulutnya dengan api bernyala.
Maka keluarga Yasir termasuk dalam golongan yang kedua ini
.... Dan soal penyiksaan mereka, diserahkan kepada Bani Makhzum. Setiap hari
Yasir, Sumayyah dan 'Ammar dibawa ke padang pasir Mekah yang demikian panas,
lalu didera dengan berbagai adzab dan siksa!
Penderitaan dan pengalaman Sumayyah dari siksaan ini
amat ngeri dan`menakutkan, tetapi tidak akan kita paparkan panjang lebar
sekarang ini. Insya Allah pada kesempatan lain akan -kita ceritakan pengurbanan
dan- keteguhan hati yang ditunjukkan oleh Sumayyah bersama shahabat-shahabat
dan kawan-kawan seperjuangannya di hari-hari yang bersejarah itu ....
Cukuplah kita sebutkan sekarang tanpa berlebih-lebihan bahwa
syahidah Sumayyah telah menunjukkan sikap dan pendirian tangguh, yang dari awal
hingga akhirnya telah membuktikan kepada kemanusiaan suatu kemuliaan yang tak
pernah hapus dan kehormatan yang pamornya tak pernah luntur. Suatu sikap yang
telah menjadikannya seorang bunda kandung bagi orang-orang Mu'min di setiap
zaman, dan. bagi para budiman di sepanjang masa ....
Rasulullah saw. tidak lupa mengunjungi
tempat-tempat yang diketahuinya sebagai arena penyiksaan bagi keluarga Yasir.
Ketika itu tidak suatu apa pun yang dimilikinya untuk menolak bahaya dan
mempertahankan diri.'Dan rupanya demikian itu sudah menjadi
kehendak Allah ....
Maka Agama baru, yakni Agama Nabi
Ibrahim yang suci murni, suatu Agama yang hendak
dikibarkan panji-panjinya oleh Muhammad saw, bukakiah
suatu gerakan perubahan secara vertikal dan horizontal,
tetapi merupakan suatu tata cara hidup
bagi manusia beriman. Dan manusia beriman ini
haruslah memiliki dan mewarisi bersama Agama
itu secara lengkap dengan kepahlawanan, perjuangan dan
pengurbanannya....
Pengurbanan-pengurbanan mulia yang dahsyat
ini tak ubahnya dengan tumbal yang akan
menjamin bagi Agama dan 'aqidah keteguhan yang
takkan lapuk ... .! Ia juga.menjadi contoh
teladan yang akan mengisi hati orang-orang beriman
dengan rasa simpati, kebanggaan dan kasih
sayang.... Ia adalah menara yang akan menjadi
pedoman bagi generasi-generasi mendatang untuk mencapai
hakikat Agama, kebenaran dan kebesarannya....
Demikianlah, berlaku pula bagi Agama
Islam, qurban dan pengurbanan ini. Makna ini
telah dijelaskan oleh al-Quran kepada Kaum Muslimin
bukan hanya pada satu atau dua ayat.
Firman Allah swt.:
Apakah manusia mengira bahwa mereha
ahan dibiarkan mengatahan: "Kami telah beriman"
padahal mereka belum lagi diuji?(Q.S. 29 al-'Ankabut:2)
Apakah halian mengira akan dapat
masuh surga, padahal belum lagi terbukti bagi
Allah orang-orang yang berjuang di antara kalian,
begitu pun orang-orang yang tabah ?(Q.S.
3 Ali Imran: 142)
Sungguh, Kami telah menguji orang-orang
sebelum mereka, hingga terbuktilah bagi Allah
orang-orang Yang benar dan terbukti pula orang-orang
yang dusta.(Q.S. 29 al-'ankabut: 3)
Apakah kalian mengira akan dibiarhan
begitu saja, padahal belum lagi terbukti bagi
Allah orang-orang yang berjuang di antara kalian?(Q.S.
9 Attaubat: 16)
Allah tiada hendah membiarhan
orang-orang beriman dalam Keadaan kalian sekarang
ini, hingga dipisahhan-Nya mana-mana yang jelek
daripada yang baik.(Q.S. 3 Ali Imran: 179)
Dan mushibah yang telah menimpa
halian di saat berhadapannya dua pasukan,
adalah dengan idzin Allah, yakni agar terbukti
baginya orang-orang yang beriman!"(Q.S. 3
Ali Imran: 166)
Memang, demikianlah Al-Qur'an mendidik putera dan para
pendukungnya bahwa pengurbanan merupakan esensi atau sari dari keimanan,
dan bahwa kepahlawanan menghadapi kekejaman dan
kekerasan dihadapi dengan keshabaran, keteguhan
dan pantang mundur, hanyalah akan membentuk
keutamaan iman yang cemerlang dan mengagumkan
....
Oleh sebab itu di kala sedang
meletakkan dasarnya, memancangkan tiang-tiang dan mengemukakan
model contohnya, hendaklah Agama Allah ini memperkukuh
diri dengan pengurbanan jiwa dan memhersihkan
jiwa dengan pengurbanan harta, maka terpilihlah
untuk kepentingan mulia ini beberapa orang
putera, para pemuka dan tokoh-tokoh utamanya
untuk menjadi ikutan sempurna dan teladan
istimewa bagi orang-orang beriman yang menyusul
kemudian!
Maka Sumayyah ...,Yassir...,dan 'Ammar
dari golongan luar biasa yang beroleh barkah
ini, adalah pilihan dari taqdir, yang dengan
pengurbanan, ketekunan dan keuletan mereka itu,
dapat memateri kebesaran dan keabadian Islam
secara kuat dan kukuh ....
Telah kita katakan tadi bahwa Rasulullah
saw. tiap hari berkunjung ke tempat disiksanya
keluarga Yasir, mengagumi ketabahan dan kepahlawanannya
...,sementara hatinya yang mulia bagaikan hancur
karena santun dan belas kasihan menyaksikan
mereka menerima siksa yang tak terderitakan
lagi.
Pada suatu hari ketika Rasulullah
saw. mengunjungi mereka, 'Ammar memanggilnya, katanya:
"WahaiRasulullah, adzab yang kami derita telah
sampai ke puncak".
Maka seru Rasulullah saw.:
"Shabarlah, wahai Abal Yaqdhan ....
"Shabarlah, wahai heluarga Yasir
....
"Tempat yang dijanjikan bagi halian
ialah Surga ... .!"
Siksaan yang diami oleh 'Ammar
dilukiskan oleh kawan-kawannya dalam beberapa
riwayat. Berkata 'Amar bin
Hakam:'Ammar itu disiksa sampai-sampai ia tak
menyadari apa yang diucapkannya"
Berkata pula 'Ammar bin Maimun:
"Orang-rang musyrik membakar 'Ammar
bin Yasir dengan api. Maka Rasulullah saw.
lewat di tempatnya lain memegang kepalanya
dengan tangan beliau, sambil bersabda:
"Hai api, jadilah kamu sejuk dingin di
tubuh 'Ammar, sebagaimana dulu hamu juga sejuk
dingin di tubuh Ibrahim...!"
Bagaimanapun juga, semua bencana itu
tidaklah dapat menekan jiwa 'Ammar, walau telah
menekan punggung dan menguras tenaganya. Ia baru
merasa dirinya benar-benar celaka, ketika pada
suatu hari tukang-tukang cambuk dan para
penderanya menghabiskan segala daya upaya dalam
melampiaskan kedhaliman dan kekejannya...., semenjak
hukuman bakar dengan besi panas, sampai disalib
di atas pasir panas dengan ditindih batu
laksana bara merah, bahkan sampai ditenggelamkan
ke dalam air hingga sesak nafasnya dan
mengelupas kulitnya yang penuh dengan luka.
Pada hari itu, ketika ia telah
tak sadarkan diri lagi karena siksaan yang
demikian berat, orang-orang itu mengatakan kepadanya:
"Pujalah olehmu tuhan-tuhan kami!", lain
diajarkan mereka kepadanya kata-kata pujaan itu,
sementara ia mengikutinya tanpa menyadari apa
yang diucapkannya.
Ketika ia siuman sebentar akibat
dihentikannya siksaan, tiba-tiba ia sadar akan
apa yang telah diucapkannya ...,maka hilanglah
akalnya dan terbayanglah di ruang matanya
betapa besar kesalahan yang telah dilakukannya,
suatu dosa besar yang tak dapat ditebus
dan diampuni lagi ...,hingga beberapa saat
dirasakannya siksaan orang-orang musyrik terhadap
dirinya sebagai obat pembalur luka dan suatu
keni'matan juga ....!
Dan seandainya ia dibiarkan dalam
perasaan itu agak beberapa jam saja, tak dapat tiada
tentulah akan membawa ajalnya ...
'Ammar dapat bertahan menanggungkan semua siksa yang
ditimpakan atas tubuhnya, ialah karena jiwanya sedang berada pada kondisi
puncak. Tetapi sekarang ini, demi disangkanya jiwanya telah menyerah kalah,
maka dukacita dan sesal kecewa hampir saja menghabiskan tenaga dan melenyapkan
nyawanya ....
Tetapi iradat Allah Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi telah
memutuskan agar peristiwa yang' mengharukan itu mencapai titik kesudahan yang
amat luhur... Dan tangan wahyu yang penuh berkah itu pun terulurlah menjabat
tangan'Ammar, sambil menyampaikan ucapan selamat kepadanya: "Bangunlah hai
pahlawan .. · ·! Tak ada sesalan atasmu dan tak ada cacat"
Ketika Rasulullah saw. menemui shahabatnya itu didapatinya ia
sedang menangis, maka disapunyalah tangisnya itu dengan tangan beliau seraya
sabdanya:
"Orang-orang hafir itu telah menyiksamu dan
menenggelamkanmu ke dalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu
…?"
"Benar': wahai RasuIullah': ujar 'Ammar sambil meratap.
Maha sabda Rasulullah sambil tersenyum: "Jika mereka
memaksaimu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti apa yang kamu katakan tadi
....!"
Lalu dibacakan Rasulullah kepadanya ayat mulia berikut ini:
Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam
keimanan ...(Q.S. 16 an-Nahl: 106)
Kembalilah 'Ammar diliputi oleh ketenangan dan dera yang
menimpa tubuhnya: bertubi-tubi tidak terasa sakit lagi, dan apa juga yang akan
terjadi, terjadilah dan ia tidak akan peduli. Jiwanya berbahagia,
keimanannya di fihak yang menang! Ucapannya yang dikeluarkan secara terpaksa
itu dijamin bebas oleh al-Quran, maka apa lagi yang akan dirisaukannya….?
'Ammar menghadapi cobaan dan siksaan itu dengan ketabahan
luar biasa, hingga pendera-penderanya merasa lelah dan menjadi lemah, dan
bertekuk lutut di hadapan tembok keimanan yang maha kukuh ....!
Setelah pindahnya Rasulullah saw. ke Medinah, Kaum Muslimin
tinggal bersama beliau bermukim di sana, secepatnya masyarakat Islam terbentuk
dan menyempurnakan barisannya.
Maka di tengah-tengah masyarakat Islam yang beriman ini
'Ammar pun mendapatkan kedudukan yang tinggi Rasulullah saw. amat sayang
kepadanya, dan beliau sering membanggakan keimanan dan ketaqwaan 'Ammar kepada
para shahabat.
Bersabda Rasulullah saw:
"Diri 'Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang
punggungnya…..!"
Dan sewaktu terjadi selisih faham antara Khalid bin Walid
dengan 'Ammar, Rasulullah saw. bersabda:
"Siapa yang memusuhi 'Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah, dan siapa
yang membenci 'Ammar, maka ia akan dibenci Allah! "
Maka tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid pahlawan Islam itu
selain segera mendatangi 'Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta ma'af
....!
Suatu peristiwa terjadi pula ketika Rasulullah saw. bersama
para shahabat mendirikan mesjid di Madinah, yakni tiada lama setelah
kepindahannya ke sana. Imam Ali karamallahu wajhah menggubah sebuah bait sya'ir
yang didendangkan berulang-ulang diikuti oleh Kaum Muslimin yang sedang bekerja
itu, dan baitnya adalah sebagai beribut:
"Orang yang memakmurkan mesjid nilainya tidak sama....
Sibuk bekerja sambil duduk di sini berdiri di sana ....
Sedang pemalas lari menghindar tertidur di sana…."
Kebetulan waktu itu 'Ammar sedang bekerja di salah satu sisi
bangunan. Ia juga turut berdendang, mengulang-ulangnya dengan nada tinggi ....
Salah seorang kawan menyangka bahwa 'Ammar bermaksud dengan nyanyian itu hendak
menonjolkan dirinya, hingga di antara mereka terjadi pertengkaran dan keluar
kata-kata yang menunjukkan kemarahan. Mendengar itu Rasulullah murka, sabdanya:
"Apa mahsud mereka terhadap 'Ammar ....?
Diserunya mereka ke Surga, tapi mereka hendak mengajaknya ke
neraha ....!
Sungguh, 'Ammar adalah biji matahu sendiri... .!"
Jika Rasulullah saw. telah menyatakan kesayangannya terhadap
seorang Muslim demikian rupa, pastilah keimanan orang itu, kecintaan dan
jasanya terhadap Islam, kebesaran jiwa dan ketulusan hati serta keluhuran
budinya telah mencapai batas dan puncak kesempurnaan…..!
Demikian halnya 'Ammar ....!
Berkat ni'mat dan petunjuk-Nya, Allah telah memberikan kepada
'Ammar ganjaran setimpal, dan menilai takaran kebaikannya secara penuh. Hingga
disebabkan tingkatan petunjuk dan keyakinan yang telah dicapainya, maka
Rasulullah menyatakan kesucian imannya dan mengangkat dirinya sebagai contoh
teladan bagi para shahabat, sabdanya:
"Contoh dan ikutilah setelah kematianku nanti Abu Bakar
dan Umar dan ambillah pula hidayah yang dipakai 'Ammar untuk Jadi
bimbingan!"
Mengenai perawakannya, para ahli riwayat melukiskannya
sebagai berikut:
Ia adalah seorang yang bertubuh tinggi dengan bahunya yang bidang dan matanya
yang biru ...,seorang yang amat pendiam dan tak suka banyak bicara ....
Nah, bagaimanakah kiranya garis kehidupan raksasa pendiam yang
bermata biru dan berdada lebar, serta tubuhnya penuh dengan bekas-bekas siksaan
kejam, dan di waktu yang bersamaan jiwanya telah ditempa dengan ketabahan yang
amat mengagumkan dan kebesaran yang luar biasa ... ? Bagaimanakah jalan
kehidupan yang ditempuh oleh pengikut yang jujur dan Mu'min yang tulus serta
pejuang yang berani mati ini .:..; ?
Sungguh telah diterjuninya bersama Rasulullah sebagai gurunya semua
perjuangan bersenjata, baik.Badar, Uhud, Khandaq, Tabuk ... pendeknya semua
tanpa keculali .... Dan tatkala Rasulullah telah mendahuluinya ke ar Rafiqul
A'la, maka raksasa ini tidaklah berhenti, tetapi melanjutkan perjuangannya
terus-menerus ....
Di kala Kaum Muslimin berhadap-hadapan dengan kaum
Persi dan Romawi, begitu juga ketika menghadapi pasukan kaum
murtad,'Ammar selalu berada di barisan pertama ..., sebagai seorang prajurit
yang gagah perkasa dengan tebasan pedangnya yang tak pernah meleset, ia sebagai
seorang Mu'min yang shalih dan mulia tidak satu pun yang dapat menghalanginya
dalam mencapai ridla Allah.
Dan tatkala Amirul Mu'minin Umar memilih calon-calon wail
negeri secara cermat dan hati-hati bagi Kaum Muslimin, maka matanya tetap
tertuju dan tak hendak beralih dari 'Ammar bin Yasir .... Ia segera menemuinya
dan mengangkatnya sebagai wali negeri Kufah dengan Ibnu Mas'ud sebagai
·Bendaharanya.
Dan kepada penduduknya Umar menulis sepucuk surat berita
gembira dengan diangkatnya wali negeri baru itu, katanya:
"Saya kirim kepada tuan-tuan 'Ammar bin Yasir sebagai
'Amir, dan Ibnu Mas'ud sebagai Bendahara dan Wazir ....Kedua mereka adalah
orang-orang pilihan, dari golongan shahabat Muhammad saw., dan termasuk
pahlawan-pahlawan Badar... .!"
Dalam melaksanakan pemerintahan,'Ammar melakukan suatu sistim
yang rupanya tidak dapat diikuti oleh ouang-orang yang rakus akan dunia, hingga
mereka mengadakan atau hampir mengadakan persekongkolan terhadap dirinya . · ·
· Pangkat dan jabatannya itu tidak menambah kecuali keshalihan, zuhud dan
kerendahan hatinya. Salah seorang yang hidup semasa dengannya di Kufah, yaitu
Ibnu Abil Hudzail, bercerita:
"Saya lihat 'Ammar bin Yasir sewaktu menjadi 'Amir di
Kufah, membeli Sayuran di pasar lain mengikatnya dengan tail dan memikulnya di
atas punggung, dan membawanya pulang….".
Dan salah seorang awam berkata kepadanya sewaktu ia menjadi Amir di Kufah itu:
"Hai yang telinganya terpotong!", menghinanya dengan telinganya yang
putus ketika menghadapi orang-orang murtad di pertempuran Yamamah. Tetapi
jawaban amir yang memegang tampuk kekuasaan itu tidak lebih dari:
"Yang kamu cela itu adalah telingaku yang terbaik ... ·
Karena ia ditimpa kecelakaan waktu perang fi sabilillah
Memang, telinganya itu putus dalam perang sabil di Yamamah ·
. .,yakni salah satu diantara hari-hari gemilang bagi 'Ammar….Raksasa ini maju
bagaikan angin topan dan menyerbu barisan tentara Musailamatul Kadzab sehingga
melumpuhkan kekuatan musuh ... ·
Ketika dilihatnya gerakan Muslimin mengendor segera
dibangkitkannya semangat mereka dengan seruannya yang
gemuruh, hingga mereka kembali maju menerjang bagaikan anak panah yang lepas
dari busurnya · · · ·
Abdullah bin Umar r.a. menceritakan peristiwa itu sebagai
berikut :
'Waktu perang Yamamah saya lihat 'Ammar sedang berada di atas
sebuah batu karang. Ia berdiri sambil berseru: "Hai Kaum Muslimin, apakah
tuan-tuan hendak lari dari Surga ...? Inilah saya 'Ammar bin Yasir, kemarilah
tuan-tuan…..!
Ketika saya melihat dan memperhatikannya, kiranya sebelah
telinganya telah putus beruntai-untai, sedang ia berperang dengan amat
sengitnya ...!
Wahai, barang siapa yang masih meragukan kebesaran Muhammad
saw., seorang Rasul yang benar dan guru yang sempurna, baiklah ia berdiri
sejenak di hadapan contoh-contoh yang telah ditunjukkan oleh para pengikut dan
shahabatnya, lalu bertanya kepada dirinya: "Siapakah yang akan mampu
mengemukakan teladan dan contoh luhur ini kalau bukan seorang Rasul mulia dan
maha guru utama?"
Jika mereka menerjuni suatu perjuangan di jalan Allah,
pastilah mereka akan maju ke depan bagaikan orang yang hendak mencari maut dan
bukan merebut kemenangan ....!
Jika mereka para khalifah dan hakim-hakim pengadilan, maka
mereka takkan keberatan memerahkan susu untuk wanita janda tua atau mengadon
tepung roti untuk anak-anak yatim, sebagai dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar.
Dan jika mereka para pembesar, maka mereka takkan main dan
merasa segan untuk memikul makanan yang diikat dengan tali di atas punggung
mereka, seperti kita saksikan pada 'Ammar; atau menyerahkan gaji yang menjadi
haknya lalu pergi menjalin daun kurma untuk kantong atau bakul sebagai yang
diperbuat oleh Salman....!
Wahai, marilah kita tekurkan kening dan tundukkan kepala
kita, sebagai ta'dhim dan penghormatan kepada Agama yang telah mengajari mereka
semua, dan kepada Rasulullah yang telah mendidik mereka....dan sebelum Agama sertaRasulullah
itu, terutama kepada Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung, yang telah memilih
mereka untuk semua ini, serta menjadikan mereka sebagai pelopor dan sebaik-baik
ummat yang pernah dilahirkan sebagai teladan bagi seluruh manusia ....
Ketika itu Hudzaifah ibnul Yaman seorang yang ahli tentang
bahasa rahasia dan bisikan ghaib, sedang berkemas-kemas menghadapi panggilan
Ilahi menghadapi sekarat mautnya. Kawan-kawannya yang sedang berkumpul
sekelilingnya menanyakan kepadanya: "Siapakah yang harus kami ikuti
menurutmu, jika terjadi pertikaian di antara ummat ...?" Sambil
mengucapkan kata-katanya yang akhir, Hudzaifah menjawab:
"Ikutilah oleh kalian Ibnu Sumayyah, kauena sampai
matinya ia tak hendak berpisah dengan kebenaran .. !"
Benar, 'Ammar akan tetap mengikuti kebenaran itu ke mana saja
perginya .... Dan sekarang sementaua kita menyelusuri jejak langkahnya,
dan-menyelidiki peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupannya, marilah kita
pergi menghampiri suatu peristiwa besar .... ! Hanya sebelum kita memperhatikan
kejadian yang mempesona dan amat mengharukan itu, baik tentang keutamaan dan
kesempurnaannya, tentang kemampuan dan keunggulannya, maupun tentang kegigihan
dan kesungguhannya.
Marilah kita perhatikan lebih dulu suatu peristiwa lain yang
terjadi sebelumnya, ialah ungkapan Rasulullah melagenai peristiwa yang akan
menimpa 'Ammar di kemudian hari!
Hal itu terjadi tidak lama setelah menetapnya Kaum Muslimin
di Madinah. Dan Rasul al-amin yang dibantu oleh shahabat-shahabatnya yang
budiman sibuk dalam membaktikan diri kepada Rabb mereka,
membina rumah dan mendirikan mesjid-Nya.
Hati yang beriman dipenuhi kegembiraan dan sinar harapan
menyampaikan puji dan syukur kepada Allah.... !
Semuanya bekerja dengan riang gembira ...,mengangkut batu, mengaduk
pasir dengan kapur atau mendirikan tembok, sekelompok di sini dan sekelompok
lagi di sana, sedang cakrawala bahagia bergema dipenuhi nyanyian mereka yang
dikumandangkan dengan suara merdu dan seronok:
"Andainya kita duduk-duduk berpangku tangan, sedang Nabi
sibuk bekerja tak pernah diam ....
Maka perbuatan kita adalah perbuatan sesat lagi menyesatkan....!"
Demikian mereka bernyanyi dan berdendang. Lain alunan suara mereka menyanyikan
lagu lainnya:
"Ya Allah, hidup bahagia adalah hidup di akhirat Berilah rahmat Kaum
Anshar dan Kaum Muhajirat
Dan setelah itu terdengar pula lagu ketiga:
"Apakah akan sama nilainya... ?
Orang yang bekerja membina masjid Sibuk bekerja, baik berdiri
maupun duduk
Dengan yang menyingkir berpangku tangan .... ?"
Tak ubahnya mereka bagai anai-anai yangsedang sibuk bekerja,
bahkan mereka adalah balatentara Allah yang memanggul bendera-Nya dan membina
bangunan-Nya.
Sementara Rasulullah yang budiman lagi terpercaya tak hendak
terpisah dari mereka, mengangkat batu yang paling berat dan melakukan pekerjaan
yang paling sukar .... dan alunan suara mereka yang sedang berdendang
melukiskan kegembiraan yang tulus dan hati yang pasrah ...,sedang langit tempat
mereka bernaung berbangga diri terhadap bumi tempat mereka berpijak ..., pendeknya
kehidupan yang penuh gairah sedang menyelenggarakan pesta pora yang paling
meriah ....
Maka di tengah-tengah khalayak ramai yang sedang hilir mudik
itu, kelihatanlah 'Ammar bin Yasir sedang mengangkat batu besar dari tempat
pengambilannya ke perletakannya.
Tiba-tiba "rahmat kurnia Allah" yakni Muhammad
Rasulullah melihatnya, dan rasa santun belas kasihan telah membawa beliau
mendekatinya, dan setelah berhampiran maka tangan beliau yang penuh barkah itu
mengipaskan debu yang menutupi kepala 'Ammar lain dengan pandangan yang
dipenuhi nur ilahi diamat-amati wajah yang beriman diliputi ketenangan itu,
kemudian bersabda di hadapan semua shahabatnya:
"Aduhai Ibnu Sumayyah, ia dibunuh oleh golongan
pendurhaka ....!"
Ramalan ini diulangi oleh Rasulullah sekali lagi...,kebetulan
bertepatan dengan ambruknya dinding di atas tempat 'Ammar bekerja, hingga
sebagian kawannya menyangka bahwa ia tewas yang menyebabkan Rasulullah meratapi
kematiannya itu. Para shahabat sama terkejut dan menjadi ribut karenanya, tetapi
dengan nada menenangkan dan penuh kepastian, Rasulullah menjelaskan:
"Tidak,'Ammar tidak apa-apa, hanya nanti ia akan dibunuh
oleh golongan pendurhaha !"
Maka wahai, siapakah kiranya yang dimaksud dengan golongan tersebut ....
Dan bilakah serta di manakah terjadinya peristiwa itu .... ?
'Ammar mendengarkan ramalan itu dan meyakini kebenaran
pandangan tembus yang disingkapkan oleh Rasul yang utama. Tetapi ia tidak
merasa gentar, karena semenjak menganut Islam ia telah dicalonkan untuk
menghadapi maut dan mati syahid di setiap detik baiksiang maupun malam ....
Dan hari-hari pun berlalu ...,tahun demi tahun silih
berganti. Rasulullah saw. telah kembali ke tempat tertinggi..., disusul oleh
Abu Bakar ke tempat ridla Ilahi ...,lalu berangkatlah pula Umar pergi
mengiringi .... Setelah itu khilafat dipegang oleh Dzun Nurain Utsman bin
'Affan ....
Sementara itu musuh-musuh Islam yang bergerak di bawah tanah,
berusaha menebus kekalahannya di medan tempur dengan jalan menyebarluaskan
fitnah ....
Terbunuhnya Umar merupakan hasil pertama yang dicapai oleh
gerakan atau subversi ini, yang gerakannya merembes ke Madinah tak ubahnya
bagai angin panas, dan bergerak dari negeri yang kerajaan dan
singgasananya telah dibebaskan oleh ummat Islam ….
Berhasilnya usaha mereka terhadap Umar membangkitkan minat
dan semangat mereka untuk melarnjutkannya, mereka sebarkan fitnah dan nyalakan
apinya di sebagian besar negeri-negeri Islam. Dan mungkin Utsman r.a. tidak
memberikan perhatian khusus terhadap masalah ini hingga terjadilah pula
peristiwa yang menyebabkan syahidnya Utsman dan terbukanya pintu fitnah yang
melanda Kaum Muslimin....
Mu'awiyah * bangkit hendak merebut jabatan
khalifah dari tangan khalifah Ali karamallahu wajhah yang baru diangkat
*) Hampir setiap riwayat hidup para shahabat Rasulullah yang
berusia lanjut yang dipaparkan dalam buku ini ada sangkut pautnya dengan
Muawiyah. Oleh karena itu perlu diungkapkan serba singkat mengenai riwayat
hidupnya.
Muawiyah dilahirkan dari keluarga hartawan dan pedagang besar
yang menguasai perekonomian hampir seluruh semenanjung Arabia. Ayahnya bernama
Shakhr bin dan dibai'at. Dan pendirian shahabat pun bermacam-macam, ada yang
menghindar dan mengunci diri di rumahnya, dengan Harb, yang sehari-harinya
disebut Abu Sufyan. Abu Sufyan inilah yang menjadi panglima besar kafir Quraisy
pada perang Uhud, Khandaq dan pemimpin pemerintahan sampai Mekah dibebaskan
oleh Rasuiullah.
Ibunya bernama Hindun bin Utbah, seorang wanita lincah,
cekatan yang mempunyai andil besar dalam membantu suami di perang Uhud. Pada
waktu perang Badar, Hindun kehilangan ayah, paman, saudara dan puteranya. Untuk
menuntut bela terhadap keluarganya itu, ia mengupah Wahsyi sebagai pembunuh
bayaran untuk membunuh dan mengambil jantung Hamzah paman Nabi dan syahid agung
untuk dimakannya mentah-mentah. Usaha menuntut bela ini dapat dicapainya.
Setelah Mekah dibebaskan, bersamaan dengan ayahnya ia pun masuk Islam.
Setelah masuk Islam, ia menjadi salah seorang sekretaris
Rasulullah saw. Ia pun ikut perang Hunain dan dengan gagah berani
memperlihatkan keperwiraannya sebagai seorang putera bekas panglima dan
mendapat pembagian rampasan perang bersama ayahnya melebihi yang lain karena
keduanya masih muallaf (orang yang barn masuk Islam, yang mendapat jaminan
hidup lebih dari orang yang sudah betul-betul beriman, supaya tidak murtad
lagi).
Di zaman Khilafah Abubakar r.a., ia ikut bertempur melawan
Romawi di Syam (Damsyiq) di bawah pimpinan kakaknya Yazid bin Abi Sofyan.
Ketika Yazid wafat, Muawiyah mengambil alih pimpinan pemerintahan dan kemudian
oleh Khalifah Abubakar r.a. ditetapkan, menjadi wall negeri Syam sebagai
pengganti kakaknya itu.
Pada masa Khalifah Umar Ibnul Khatthab r.a., ia masih menjadi
wali negeri Damsyiq. Ketika Khalifah Umar r.a. meninjau Syam, beliau
mendapatkan Muawiyah di Istananya yang sangat mewah; Umar berkata: "INI
ADALAH KISRA (KAISAR) ARAB"!! Tidak lama setelah itu, karena berbagai
alasan, Umar memberhentikan dari jabatannya dan Said bin Amir pelopor hidup
sederhana menggantikan Muawiyah.
Pada masa Khalifah Utsman, Muawiyah diangkat kembali menjadi
wall negeri seluruh Syria, termasuk Palestina. Banyak pengaduan rakyat kepada
Khalifah Utsman tentang tindakan wall negeri ini, termasuk keberandalan
puteranya. Akan tetapi sebagian besar surat pengaduan itu tidak disampaikan
kepada Khalifah oleh sekretaris beliau yang bernama Marwam
(saudara sepupu Muawiyah). Atas pengkhianatan Marwam initah
timbulnya pemberontakan dan terbunuhnya Khalifah Utsman.
Muawiyah adalah seorang jenius, pintar dan cerdik, politisi
dan panglima perang. la mampu menggunakan kekuasaan dan harta negara dalam
mencari kawan dan merangkul bawahan.
Ia wafat pada tahun 60 hijrah dalam usia 78 tahun.
Semoga Allah menerima amal baktinya.