Senin, 22 Agustus 2011

Silsilah Desa Cikulak






A. Leuweunggede
Sebelum lahir Desa Cikulak, dulunya masih berupa hutan belantara yang disebut dengan Leuweunggede.¹). Sebagian hutan ini dikelilingi sungai yang banyak menyimpan aneka ragam ikan. Sungai ini disebut dengan nama Kali Wedi ²). Adapun batas-batasnya adalah : Sebelah Utara hutan Jatirenggang, sebelah selatan lembah Gunungsari, sebelah barat hutan Jatipiring, dan sebelah timur hutan Leuweunggajah 3).

B. Riwayat Ki Buyut Bandung dan Ki Gedheng Rambatan
Dalam cerita Babad Cirebon, yang sebelumnya masih berupa pedukuhan 4), belum dipimpin seorang Kuwu 5).
Dalam riwayat Elang Welang 6, diceritakan bahwa Elang Welang mempunyai 2 ( dua ) orang anak laki-laki yaitu Ki Buyut Bandung 7) dan Ki Gedeng Rambatan. Dua orang kakak beradik inilah yang kemudian menguasai Leuweunggede. Ki Buyut Bandung kemudian bertunangan dengan Keturunan Keraton Cirebon yang bernama Nyai Mas Gedeng Rantan Sari 8)

Alkisah di Leuweung Kasub yaitu suatu hutan yang berada di daerah Dukuh Jeruk Jawa Tengah. Penguasa di Daerah tersebut adalah Ki Buyut Kasub. Ki Buyut Kasub mempunyai 2 ( dua ) orang anak.yaitu satu laki-laki bernama Rambang Maya dan yang perempuan bernama Rambut Kasih. Nyi Rambut Kasih adalah Orang yang menguasai Leuweunggajah 9).

Ki Rambang Maya mempunyai maksud memperistri Nyi Mas Gedeng Rantan Sari. Hasratnya itu kemudian disampaikan kepada bapaknya Ki Buyut Kasub. Ki Buyut Kasub menyetujui keinginan anak laki-lakinya itu. Disamping itu dia bermaksud ingin menguasai Leuweunggede sebagai daerah kekuasaanya.

Pada suatu waktu, Ki Buyut Kasub mengirimkan utusan ke Karaton Kanoman Cirebon dengan maksud meminang Nyi Mas Gedeng Rantan Sari untuk di jadikan istri Ki Rambang Maya. Tetapi pihak Keraton Kanoman Cirebon menolak lamaran itu. Alasannya, Nyai Mas Gedeng Rantan Sari sudah bertunangan dengan Ki Buyut Bandung. Dengan penolakan tersebut Ki Buyut Kasub tidak menerima dan berjanji akan menyerang ke tempat Buyut Bandung di Leuweunggede sampai bisa ditaklukan.

Lain dengan ayah dan kakanya Nyi Rambut Kasih tidak sependapat dengan mereka. Dia sebenarnya menaruh hati sejak pertama kali melihat Ki Bayut Bandung sewaktu dia berburu di Leuweunggede. Oleh karena itu, dia tidak mau diajak berperang melawan Ki Buyut Bandung. Dia ingin memilikinya dan akan memerangi kepada siapa saja yang menghalanginya termasuk saudaranya sendiri, terlebih-lebih kepada Nyi Mas Gedeng Rantan Sari. Dari permasalahan inilah yang kemudian menimbulkan peperangan dan permusuhan antara Ki Buyut Kasub dengan Ki Buyut Bandung.

C. Perundingan Bale Malang Tarikolot

Sebelum terjadi peperangan antara Buyut kasub dengan Buyut Bandung. Ki Buyut Bandung berunding dulu dengan adiknya Ki Gedeng rambatan di suatu Bale di Kampung tarikolot 10).

Ki Buyut Bandung berpendapat bahwa karena lamaran dia ( Buyut Kasub ) di tolak oleh keluarga Nyai Gedeng Rantan Sari bukanya menyadari melainkan akan menyerang, mendahuluinya adalah lebih baik. Tetapi Ki Gedeng Rambatan tidak setuju dengan maksud kakaknya itu. Selanjutnya Ki Gedeng Rambatan berkata : “ Kita tidak perlu mengadakan peperangan karena perang itu tidak menguntungkan. Yang menang dan yang kalah sama-sama rugi. Lebih baik berunding dulu dengan mereka “.
“ tentang perempuan untuk calon istri selain Nyai Mas ( sebutan untuk Nyai Mas Gedeng Ranatan Sari ) kan masih ada lagi, jagat raya ini luas, tidak sedaun kelor “. Ki Gedeng Rambatan berkata lagi sambil menyoroti kakaknya dengan penuh pengharapan. Ki Buyut Bandung tetap pada pendiriannya 11).

“ Kalau menurut apa yang Kau katakan tadi, berarti Kita kalah sebelum bertanding. Kita harus mempertahankan tongkat 12) kita “. Kata Ki Buyut Bandung dengan penuh keyakinan akan menang dalam menghadapi pasukan Ki Buyut Kasub. Akibat dalam perundingan tersebut nasihat adik tidak berhasil menghalangi niat kakaknya untuk berperang, maka Bale Desa tersebut diberi nama Bale Malang, atau lebih dikenal dengan sebutan Bale Malang Tarikolot 13). Di Kampung ini terdapat sumur tua yang diberi nama Sumur Sela 14).  Dan Kampung ini pula yang menjadi asal mula Desa Cikulak 15).

D. Perang antara Pasukan Ki Buyut Kasub dengan Pasukan Ki Buyut Bandung 16).
Leuweunggede sebelah timur sebagai batasnya adalah Kali Wedi. Yang memisahkan antara Leuweunggede dan Leuweunggajah.

Akibat ditolaknya lamaran Ki Buyut Kasub meminang Nyai Mas Gedeng Rantan Sari untuk Ki Gedeng Rambang Maya, Buyut Kasub langsung mengerahkan pasukan untuk menyerang Leuweunggede. Di perbatasan inilah terjadi perang antara pasukan Ki Buyut Kasub dengan Pasukan Ki Buyut Bandung. Pasukan Nyai Rambut Kasihpun ikut bergabung dengan pasukan Ki Buyut Kasub ( ayahnya ) karena Buyut Bandung tidak melayani cintanya, juga rasa dendamnya kepada Nyai Mas Gedeng Ranatan Sari.

Dalam pertempuran tersebut kedua belah pihak masing-masing mengeluarkan kesaktiannya. Buyut Kasub menunjukan kemampuannya dengan membuat daun dan pepohonan kering tidak bergetah, manusia tidak berkeringat, sunagi dan sumur tidak ada airnya. Dengan demikian pasukan Buyut bandung kewalahan menghadapinya.

Melihat keadaan yang menghawatirkan, Ki Buyut bandung dan Ki Gedeng Rambatan mendatangi Nyai Mas Gedeng Rantan Sari dan memberikan pandangan/nasihat agar dia tidak ikut berperang melawan pasukan Ki Buyut Kasub. Tetapi Nyai Mas tetapberkeras hati untuk membantu kekasihnya Ki Buyut Bandung.

Dia menjawab: “Pokoknya beres.” Dengan penuh keyakinandan membuat kakak beradik terbengong-bengong17). Ki Buyut Bandung pergi kea rah barat dengan menunggang kuda, yaitu ke Sumur Dalem 18). Pasukan dipegang Ki Gedeng Rambatan. Sesampainya di sumur dalem, Ki Buyut Bandung sembahyang 19) memohon kepada Yang Maha Kuasa supaya malapetaka yang ditimbulkan oleh Ki Buyut Kasub hilang.

Ki Buyut Bandung kemudian dapat petunjuk dari Yang Maha Kuasa agar membuat sumur di daerah sebelah selatan Leuweunggede. Kemudian dia pun pergi kea rah yang dituju melalui kampong Tarikolot. Dengan memohon kepada Yang Maha Kuasa Sang PenciptaBumi, dia membuat sumur yang kemudian diberi nama Sumur Bandung 20) yang masih dekat dengan Kali Wedi.

Usaha Ki Buyut Bandung ini baru menghasilkan kebutuhan air terutama untuk kehidupan sehari-hari 21) masyarakat di tepian kali Wedi, sedangkan tanah dan tanaman di sekitarnya pada umumnya mongering akibat kesaktian Ki Buyut Kasub. Persediaan pangan berupa padi yang tersimpan di lumbung 22) menipis.

Nyai Rambut Kasih yang kala itu menguasai Leuweunggajah, tidak ketinggalan ingin membantu ayahnya Ki Buyut Kasub. Dia mengeluarkan kesaktiannya dengan menghembuskan angin puyuh 23) yang membuat pepohonan jadi tumbang akibat kerasnya hantaman angin tersebut termasuk pohon kelapa tercabut. Dia juga menyebarkan penyakit kulit 24) yang sulit disembuhkan.

Nyai Mas Gedeng Rantan Sari pergi ke kampung Tarikolot. Kemudian dia mengambil air Sumur Sela yang dimasukkannya ke dalam tempurung, dan membawanya dengan gesit naik ke pohon duwet 25) yang sangat tinggi   dan besar. Air itu disemburkan oleh mulutnya kea rah Kali Wedi. Dengan kekuatan yang dimilikinya, maka terjadilah awan gelap, angin bertiup kencang, menderu hingga menyebabkan hujan turun dengan keras/lebat. Kali Wedi pun banjir tidak tertahankan. Pasukan Ki Buyut Kasub dan Rambut Kasih berteriak histeris; “Cai gulak… Cai Gulak… 26) Mereka meninggalkan perbatasan dan menghentikan penyerangan.

Perang berhenti, Ki Buyut Kasub dan pasukannya, Nyai Rambut Kasih dan pasukannya kembali ke daerah asalnya masing-masing. Nyai Rambut Kasih pergi dengan seorang diri ke Leuweunggajah dan menetap di sana.

Setelah perang selesai, banjir pun surut. Karena perang berhenti akibat banjir Kali Wedi. Maka Kali tersebut disebut Kali Ciberes 27). Air sungai ini mengalir dengan tenang kembali seperti tenangnya Ki Buyut Bandung dan Nyai Gedeng Rambatan, lebih-lebih Nyai Mas Gedeng Rantan Sari. Kedua kakak beradik ini kemudian pergi dengan menunggang kuda 28) ke arah selatan menyeberang Kali Wedi.

Sebelumnya mampir dulu di Sumur Bandung untuk sembahyang dan menitipkan Leuweunggede ke Nyai Mas Rantan Sari 29) . Perkakas yang digunakan untuk berperang yang dikhawatirkan akan membahayakan di kemudian hari, dikubur 30) di dekat Kali Wedi . Kuburan ini disebut Makam Panjang 31).

Setelah Ki Buyut Bandung dan Ki Gedeng Rambatan mangkat 32) dari Leuweunggede, masyarakat yang waktu itu sudah ada dan menjadi bawahannya merasa kehilangan sosok pemimpin yang bisa mengayomi mereka terutama yang sering dilewati oleh ketukan suara kaki kudanya yang khas. Ketaatannya menjalankan ajaran agama 33) tidak diragukan lagi. Sedangkan Nyai Mas Rantan Sari terus berada di Leuwunggede. Dia membuat saung 34) di Blok Duwet dan menetap di sini 35).

Kuwu pertama yang memerintah Cikulak setelah kurun waktu tertentu yaitu Mbah Kuwu Bujel 36). Kuwu Lobama bagi sesepuh-sesepuh desa Cikulak dan Cikulakkidul juga paramusafir yang singgah ke Cikulak diakui sebagai sosok pemimpin yang tanagguh dalam menghadapi berbagai masalah dan disegani pada jamannya karena kesaktian maupun sikapnya yang toleran terhadap sikap warganya yang berbeda pendapat dengannya.

E. Penutup
Demikianlah cerita ringkas tentang asal usul Desa Cikulak. Cerita ini untuk menjembatani hubungan baik antar generasi, baik yang sudah berlalu, yang sedang berjalan maupun anak cucu kita yang akan datang.

Semoga bermanfaat.**

-----------------------------------------------------------------

1. Pada waktu itu Cirebon masih dibawah kekuasaan Pakuan Pajajaran dengan Rajanya JAYA DEWATA bergelar SRI BADUGA MAHARAJA PRABU SILIWANGI Raja Agung, Punjuling Papak, Ugi Sakti Madraguna, Teguh Totosane Bojona Kulit Mboten Tedas Tapak Paluneng Pande, Dihormati, disanjung Puja rakyatnya dan disegani oleh lawan-lawannya. Leuweunggede merupakan bagian pedukukan Cirebon bagian timur.
Letaknya sekarang satu kilo meter sebelah Barat Bale Desa Cikulak yaitu berupa tanah sawah dengan nama Blok Leuweunggede. Dan sudah merupakan bagian dari pesawahan Desa Cikulakkidul.

2. Wedi disini berati :
a. Pusat Pasir ; dikatakan Wedi karena waktu itu merupakan pusat pasir di daerah Leuweunggede dan sekitarnya.
b.  takut, tunduk, patuh.
Kali Wedi ini Sekarang bernama Sungai Ciberes ( lihat catatan )

3. Batas-batas ini, setelah Leuweunggede menjadi Desa Cikulak, adalah : sebelah utara Desa Jatirenggang, sebelah selatan Desa Cikulakkidul ( Tahun 1984 ), sebelah Barat Desa Cibogo dan sebelah timur Desa Pabuaran.

4. Dukuh adalah sekumpulan pemukiman yang berdekatan dan tidak dibatasi oleh suatu lahan bukan pemukiman. Secara umum, desa di Jawa merupakan sekumpulan pemukiman (dusun) yang dipisahkan oleh sungai, persawahan, ladang, atau hutan. Desa mencakup semua wilayah ini.

5). Di Kabupaten Cirebon, sekarang istilah Kuwu adalah orang yang memimpin suatu wilayah desa hasil pemilihan langsung oleh rakyat desa tersebut dalam Pilkuwu. Waktu itu adalah orang yang memimpin wilayah Caruban/Cirebon.
Kuwu Cirebon yang pertama yaitu Ki Gedeng Alang Alang dan setelah meninggal pada tahun 1447 Masehi digantikan oleh Pangeran Walangsungsang sebagai Kuwu Carbon yang kedua dengan gelar Pangeran Cakrabuana yang sebelumnya sebagai wakil Kuwu.
Kemudian dalam Babad Cirebon disebutkan,  atas petunjuk Syekh Nur Jati, Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah. Pangeran Walangsungsang mendapat gelar Haji Abdullah Iman dan adiknya Nyai Lara Santang mendapat gelar Hajah Sarifah Mudaim, kemudian menikah dengan seorang Raja Mesir bernama Syarif Abullah. Dari hasil perkawinannya dikaruniai 2 (dua) orang putra, yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Sekembalinya dari Mekah, Pangeran Cakrabuana mendirikan Tajug dan Rumah Besar yang diberi nama Jelagrahan, yang kemudian dikembangkan menjadi Keraton Pakungwati (Keraton Kasepuhan sekarang) sebagai tempat kediaman bersama Putri Kinasih Nyai Pakungwati.

6). Cerita ini sebelum merdekanya Cirebon atau keluar dari kekuasaan Dipati Pajajaran. Dalam babad Cirebon dicatat tanggal Dwa Dasi Sukla Pakca Cetra Masa Sahasra Patangatus Papat Ikang Sakakala, bertepatan dengan 12 Shafar 887 Hijiriah atau 2 April 1482 Masehi. Sekarang setiap tahunnya tanggal 2 April tersebut diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Cirebon.

7). Dia waktu menguasai Leuweunggede mempunyai binatang peliharaan berupa 40 ekor kucing dan 1 ekor harimau sebagai pengasuhnya.

8). Peristiwa Dia menguasai Leuweunggede setelah Ki Buyut Bandung pergi ( lihat catatan selanjutnya ).

9). Sekarang menjadi 2 Desa yaitu Desa Tenjomaya dan desa Leuweunggajah kecamatan Ciledug.

10). Menurut sumber lain, sebelum ada Bale Desa Cikulak sekarang, disinilah tempat berunding sesepuh—sesepuh Desa yang diawali Ki Buyut Bandung dan Ki Gedeng Rambatan ( sekarang menjadi bagian dari Desa Cikulakkidul ).

11). Sifat watak kedua watak kakak beradik ini adalah :
a. Ki Buyut Bandung orangnya gagah, agresif, selalu ingin menang, optimis dalam mencapai maksud. Tidak mau kalah dalam segala hal kecuali oleh bapaknya.
b. Ki Rambatan; tidak banyak keinginan, selalu mengalah meskipun ilmunya tinggi termasuk kepada kakaknya Ki Buyut Bandung.

12). Tongkat disini maksudnya kekuasaan / kehormatan. Buyut Bandung tidak mau menyerahkan apa yang sudah dimilikinya baik Leuweunggede apalagi kekasihnya Nyai Mas Gedeng rantan Sari, kecuali setelah bertanding / perang dia kalah, seluruh yang dimilikinya akan rela diserahkan

13). Dinamakan Bale Malang karena :
a. Kedudukan Bale ini tidak menghadap ke jalan, atau arahnya serong.
b. Ki Gedeng Rambatan tidak bisa mencegah kakaknya supaya tidak berperang, mengadu   kekuatan dengan Ki Buyut Kasub dan pasukannya. Dia bersemedi dan tidak ikut berperang.

14). Sumur ini tidak mengalami kering dan tetap airnya biarpun musim kemarau panjang, air sumur inilah yang digunakan Nyai Mas Gedeng Rantan Sari untuk mengusir pasukan Buyut Kasub dan menghentikan peperangan.

15). Bale Desa yang sekarang awalnya didirikan pada tahun 1927 yaitu pada waktu kedudukan kolonial Belanda. Kepala Pemerintahannya dipimpin oleh Kuwu Dana.
Simtem Pemerintahan masih kental dengan istilah dalam sejarah, yaitu Sistem Macapat. Ada sarana pendidikan, sarana ibadah ( Mesjid ), lumbung padi dan Jalan (Kereta Api). Balai Desa menghadap ke utara dengan alun-alun/halaman yang luas. Sebelah kanannya Lembaga Pendidikan (Sekolah Rakyat). Sebelah kiri, tempat ibadah (Masjid) dan di belakang ada Lumbung padi untuk persediaan pangan apabila musim paceklik (kemarau berkepanjangan dan tidak menghasilkan gabah/tidak panen)
Tahun 1984, karena penduduknya sudah melebihi batas suatu pemerintahan desa (Bupati Cirebon dijabat Bpk. Kol. Caj. H. Memed Tohir), Desa Cikulak di mekarkan menjadi 2 Desa yaitu Desa Cikulak dan Desa Cikulakkidul, yang masing-masing menjalankan pemerintahan sendiri-sendiri.

16). Penegertian pasukan disini tidak ada penjelasan berapa banyak jumlahnya.

17). Dalam cerita ini, Nyai Mas Gedeng Rantan Sari sudah ada di Leuweunggede, tidak lagi di Keraton Cirebon. Waktu Ki Buyut Bandung dan Ki Gedeng Rambatan mendatanginya, Nyai Mas berada di Blok Duwet (Balai Desa sekarang).

18). Sumber lain menyebutkan bahwa waktu ke sumur dalem, Ki Buyut Bandung tidak mendapatkan air dan perjalanan dilanjutkan ke Tarikolot. Di tengah perjalanan, dia mendapat tuk (mata air) untuk wudlu menunaikan sholat. Sekarang tempat ini ada di Desa Cibogo berupa sawah dengan nama Blok Sumur Dalem.

19). Cerita lain menyebutkan bahwa sewaktu Ki BuyutBandung di Leuweunggede sudah beragama Islam. Yang dimaksud sembahyang di sini adalah sholat di Masjid Sumur Dalem. Bukti penyebaran Islam di Cikulak, lihat ket selanjutnya.

20). Sumur ini seperti hanya sumur Sela, tidak mengalami kering meskipun kemarau panjang. Sekarang termasuk wilayah desa Cikulakkidul.

21). Di sini menggambarkan sudah ada kehidupan masyarakat di tepian Kali Wedi. Masyarakat sudah membutuhkan seorang pemimpin.

22). Maksudnya tempat menyimpan padi kering/gabah. Tempatnyua di Blok Beas (daerah beras). Sekarang termasuk dudun I, depan Kantor Kuwu Cikulak.

23). Angin Puyuh; yaitu angin yang gerakannya berputar-putar dan sangat berbahaya apabila mengenai sesuatu dan manusia apabila terkena angin tersebut bias terbawa dan kehabisan nafas/mati.

24). Seperti penyakit kusta yang pada waktu itu sulit disembda lauhkan.

25). Pohon ini adanya di Blok Duwet. Sekarang sudah tidak ada lagi. Ada di sekitar Balai Desa Cikulak.

26). Maksudnya, air yang meluap-luap seperti air yang mendidih bercampur pasir dan sangat berbahaya.Masuk ke dalamnya berarti berbahaya. Cikulak, diambil dari kata ini.

27). Dalam bahasa sunda, Ciberes berarti : ci = cai (air), beres = maksudnya bias membereskan masalah. Sungai tersebut menjadikan peperangan, pertumpahan darah, dan permusuhan serta pertikaian yang hanya memperebutkan seorang wanita dan kekuasaan terhenti. Sungai ini dulunya masih besar dan dalam, angker belum ada jembatan penyebrangan. Apabila ingin menyeeberang, digunakan rakit  dari bambu atau tangkai pohon kelapa.

28). Sumber lain menambahkan bahwa kuda yang ditunggangi oleh Ki Buyut Bandung ditinggalkan di Blok Duwet karena sakit dan dipelihara seseorang (tidak ada nama) sehingga perginya mereka berdua menggunakan kuda yang dimiliki Nyai Gedeng Rambatan

29). Sampai di sini tidak ada kepastian yang kuat, apakah Ki Buyut Bandung dan Nyai Mas Rantan Sari kawin atau tidak.
Sumber lain; Ki Buyut Bandung tidak kawin dengan NYai Mas Rantan Sari karena berbeda agama. Masing-masing kuat pada agamanya tidak terpengaruh satu sama lain. Agama yang dianut Ki Buyut Bandung Islam, sedangkan agama yang dianut Nyai Mas Rantan Sari galuh, agama yang senang sesajen. Keseluruhan sifatnya baik, tidak gampang tergoda laki-laki yang belum jelas kepribadiannya. Sedangkan Nyai Rambut Kasih, sifatnya sama baik tetapi mudah tergoda oleh laki-laki yang disukainya. Dia mau berkorban bila keinginannya ingin tercapai.

30). Mengubur perkakas ini dilakukan oleh kakeknya ( orang pribumi yang waktu itu mengasuhnya dan dianggap orang tuanya sendiri  dengan mengatas namakan kakek ) yang dikenal dengan nama Mbah Bujel.

31). Disebut Makam Panjang karena bentuknya yang panjang (tidak seperti umumnya makam orang). Letaknya ada di RT 06/03 Dusun II. Konon di dalamnya berisi perkakas perang pasukan perang yang gugur dalam pertempuran Kii Buyut Bandung dengan Ki Buyut Kasub.

32). Menurut sesepuh-sesepuh desa, Buyut Bandeung dan Gedeng Rambatan pergi meninggalkan Leuweunggede dan mengembara lagi untuk tujuan tertentu/mengembara. Mangkat; berarti meninggalkan dengan tidak akan kembali lagi mengurus kehidupan duniawi.
Setelah kedua tokoh ini mangkat, datanglah tokoh baru yang konon penyebar pertama ajaran Islam di Cikulak yang bernama Buyut Isya.

33). Setiap istirahat di suatu kampong yang disinggahinya, Ki Buyut Bandung selalu sembahyang (ada yang mengartikan sholat secara Islam, ada yang mengartikan semedi atau istilah lain yang masih berbaur/faham Hinduisme). Biaarpun wataknya keras kepala, tetapi dalam memutuskan segala sesuatu selalu memohon petunjuk Yang Maha Kuasa. Sifat-sifat inilah yang kemudian ditiru oleh penerusnya yaitu Buyut Isya.
Tokoh selanjutnya yang meneruskan adalah Buyut Isya. Dalam silsilah keturunan sampai kepada Nabi Muhammad SAW., beliau termasuk keturunan dari Abdul Malik. Beliaulah yang diakui masyarakat Cikulak sebagai sosok ulama pertama yang mensyiarkan agama islam di Cikulak. Hasil pernikahannya dengan seorang wanita pribumi ( tidak diketahui nama dan keturunannya) mempunyai seorang anak yang bernama Hasan Mufrod. Kemudian Hasan Mufrod mempunyai empat orang anak lelaki yang menjadi anutan masyarakat. Empat anak tersebut yang kemudian menjadi ulama pada jamannya adalah :
1.     Abdul Hamid ; keturunannya di Pabuaran
2.     Mahfud ( lebih dikenal dengan nama Mahful ) ; beliau mendirikan pondok pesantren di Cikulak
3.     Anwar ; beliau menyebarkan ajaran Islam dengan mendirikan pondok pesantren di Baros Jawa Tengah.
4.     Nasuha ; keturunan beliau masih ada di Cikulak.
Buyut Isya dimakamkan di tepi sungai Ciberes ( 700 m. arah selatan balai Desa Cikulak ). Salah satu situs makam yang sering diziarahi.
Kyai Mahful ; makamnya ada di Tempat Pemakaman Umum Muslim Cikulak – Cikulakkidul. Makam ini setiap tahunnya ( setiap tanggal 3 syawal ) diadakan tahlilan missal/umum yang jamaahnya meliputi santri-santri dari desa-desa sekitar terutama yang masih merasa satu keturunan/kerabat dekat).

34). Saung ; dimaksud adalah rumah. Sekarang sudah menjadi Balai desa Cikulak.

35). Nyai Mas Rantan Sari dan yang menjadi kakeknya berdiam disini sampai akhir hayatnya. Makamnya tidak diketahui keberadaannya.

Sumber lain menyebutkan bahwa Nyai Mas Rantan Sari sewaktu meninggal masih belum kawin dan makamnya di sebelah timur Balai desa yang kemudian dibangun sekolah. Sedangkan kakeknya (Mbah Bujel), dimakamkan di sebelah barat Balai Desa yang kemudian dijadikan Masjid Jamie Nurul Muttaqiin.

Seperti halnya di Makam Panjang, di Balai Desa pun sering terjadi sesuatu yang aneh. Seseorang (pria) bias saja diganggu apabila tidur di Balai Desa. Menurut yang mempercayainya, kadang menjelma sebagai Nyai Rambut Kasih yang menyapa dan kemudian menghilang dengan tidak mengganggu atau menyakiti.

Balai Desa Cikulak sebelumnya adalah saung tempat istirahat dan tempat musyawarah setelah Balai Malang untuk memecahkan sesuatu masalah di Leuweunggede.

Setelah selesainya peperangan antara Ki Buyut Bandung dengan Ki Buyut Kasub, dan sebelum Ki Buyut Bandung dan Ki Gedeng Rambatan meninggalkan Cikulak, di sini sempat minum air kelapa yang di ambil dari Blok Kalapa yang bersebelahan dengan Blok Duwet.

36). Nama Kuwu pertama dalam silsilah Kuwu Cikulak adalah Lobama alias Natagama. Sebutan Mbah Bujel karena lebih dikenal pada jamannya.  Makamnya ada di TPU Cikulak – Cikulakkidul. Bentuk makamnya berbeda dengan makam lainnya (Bundar). Makam ini masih sering diziarahi terutama yang akan mencalonkan menjadi Kepala kesa/Kuwu.
Nama-nama Kuwu yang pernah memimpin Desa Cikulak :
1.   Lobama alias Natagama alias Mbah Bujel                         TT
2.   Rantam alias Kuwu Burut                                                            Tahun   1841 – 1912
3.   Dana                                                                                                     1912 – 1932
4.   Eyo alias Mastub Bin Sakrim                                                                     1932 – 1941
5.   Sobali Sastrawijaya Bin Wastra Kantiar Sastrawijaya                                  1941 – 1958
6.   Madhasan Bin Wasmah                                                                            1958 – 1965
7.   Badar (Pjs. Polisi)                                                                                   1965 – 1970
8.   Dulhari Bin Diryat                                                                                   1967 – 1970
9.   Sudiatna (Pjs. AL)                                                                                  1970 – 1972
10. Saleh Suryawinata Bin H. Dulgani                                                 1972 – 1985
11. Danu S. Bin Bangkit (Pjs)                                                             1985 – 1989
12. Syamsudin Bin Carlam                                                                             1989 – 1996
13. Abas Bin Suma (Pjs)                                                                                1996 – 2001
14. Ahmad Nurhandi Bin Bunaim                                                                    2001 – 2011
15. SAEFUDIN DJUHRI BIN CARTALIM                                                             2011 -

Sejak terpisahnya pemerintahan desa menjadi Cikulak dan Cikulakkidul, makam/TPU untuk kedua desa ini masih menyatu. Konon, kedua desa ini masih mempunyai ikatan persaudaraan yang tidak bias dipisahkan hanya karena berbeda desa.

**) SUMBER :
Cerita ini didapat dari Bapak SUDJATMA, dalang wayang golek cepak Desa Cikulak, tt
Pengertian “ sekarang “ dalam tulisan ini adalah waktu dibuatnya tulisan ini oleh penulis. Penulis hanya mengedit supaya cerita mudah dicerna oleh pembaca.  Tulisan ini didapat dari Bapak Abdul Yaman yang bersumber dari Bapak Sudjatma yang diketik ulang oleh penulis dengan sedikit catatan.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca terutama dikhususkan generasi muda desa Cikulak supaya mengenal sejarah desanya sendiri
.

2 komentar:

Faisal Sam'ani Machrus mengatakan...

Hatur Nuhun Pisan Kang Atas Kisahna.. Salam Duluran Kagem Sadaya Wargi Cikulak. Abdi Faisal samani Bin Machrus Hamami Bin KH Hamami Bin KH.Anwar Bin KH .Hasan Mufrod Bin Mbah Buyut Isya. Ayeuna Tos Netep Di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin. Mudah2an Blog iyeu Tiasa Nyambung Silaturahmi.

rangga saputra mengatakan...

Nuhun info na. Pak efen.
Abdi ti cikulak... Mugi urang cikulak ntong ribut wae pamuda na. Ntong pa agul2. Nu ti bmv, bulukbuk. blok kalapa. Blok manis. Blok kuda atanapi masteng. Prapanca. Mabal. Jeng sisi dayeuh. Hayu ntong udik ting raribut te puguh. Urang wangun wewengkon janten silih asah silih asuh silih asih ker jati diri urang sunda tea.
Hapunten OOT nya.